Selasa, 31 Agustus 2010

SKETSAKU (LANJUTAN 3)

7

Kerja di Jakarta, sebelumnya tak pernah terlintas dalam benakku, seperti air mengalir, saya mengalir saja. Dari Bima ke Yogya terus ke Bandung. Menikah. Beberapa bulan bersama istri tinggal di rumah kontrakan selanjutnya Istri diterima sebagai PNS dan dapat penempatan tugas di Lampung. Bolak balik Lampung Jakarta. Setelah beberapa tahun (kurang lebih 4 tahun) tugas istri di proses pidah ke Jakarta untuk ikut suami. Sampai akhirnya kamipun bisa kumpul kembali di Jakarta, istri sebagai PNS dan saya sebagai karyawan swasta, dirumah kontrakan daerah Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta Selatan. Alhamdulillah sekarang kami bertempat tinggal di Limo Depok.

Masuk ke dalam dunia dan lingkungan kerja memaksa saya untuk bisa menyesuaikan diri. Yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah pada hari pertama dan kedua masuk kerja sempat membuat saya mabuk dan muntah, mungkin karena ‘stres’ atau dinginnya AC seharian dalam kamar kerja. Sebelumnya memang saya terbiasa di jalanan. Terbiasa dengan panasnya matahari dan basah kuyup oleh hujan. Kerja keras. Ketekunan. Dan kesabaran. Tiga hal itulah yang menuntun saya setahap demi setahap memulai profesi sebagai karyawan. Untuk do’a dan tawakal kepada Allah itu sudah menjadi bagian hidup. Perusahaan tempat saya kerja memang tidaklah terlalu besar, masih dalam kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM). Alhamdulilah dengan kerja keras, ketekunan dan kesabaran saya sampai pada posisi Asisten Manager Accounting. Proses bekerja sebagai karyawan yang telah saya lalui sudah cukup memberi banyak nilai dalam hidup saya, atasan sudah sering ganti, begitupun dengan rekan kerja sudah sering keluar masuk.

Dengan posisi saya sebagai karyawan swasta, yang telah saya jalani, dan dibantu oleh istri sebagai pegawai negeri sipil, alhamdulillah kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya, walau tidak berlebihan, tapi bisa membuat keluarga kami menikamti hidup secara sederhana, cukup sandang pangan.

Proses interaksi dengan rekan kerja telah saya lalui dengan sangat berat saya harus menyesuaikan diri dalam segala hal, yang paling berat adalah ketika saya diajak makan-makan di Restaurant mewah di jalan Sudirman Jakarta oleh atasan saya, karena pada tahun itu mengalami peningkatan omzet penjualan yang cukup baik. Bersama teman-teman, malam sehari sebelum puasa Ramadhan tahun 2004, selesai makan-makan dilanjutkan menikmati ‘gemerlapnya dunia malam’ di hotel JW Marriott Mega Kuningan Jakarta. Perasaan saya waktu itu ‘sangat panik’, saya binggung, ketika masuk kedalam gedung tersebut sudah hampir tengah malam, setelah naik lift entah di lantai berapa saya lupa, kemudian naik tangga yang agak sempit dan agak remang-remang, setelah sampai ditempat masuklah kami dalam ruangan, tiba-tiba saya merasa sangat terasing, seakan saya masuk ke dalam dunia lain dan sangat asing, ruangannya remang-remang lampu warna warni kelap kelip berputar-putar, ruangan penuh dengan orang-orang yang berjoget dan ada panggung tempat group band beraksi mengiring seorang penyanyi, dan ada tulisan ‘club malam’ saya lupa namanya, musiknya sangat memekak telinga, bau asap rokok dan minuman menghiasi ruangan, setelah duduk-duduk, berkumpul dengan teman-teman ditempat yang sudah dipesan, semua pesan minum, sayapun bingung harus pesan apa, semua tak ada yang saya kenal kecuali ‘orange jus’, untung ada teman yang cukup menghargai kebingungan saya, karena dia tahu saya tak mimun minuman yang mengandung alkohol, dia menyarankan agar minum orange jus atau capucino, dan suasana dalam ruangan itu benar-benar sangat ramai, joget, dansa, dan bernyanyi, belum lagi ada saling ‘jago’ antara teman-teman mengenai masalah minuman (beralkohol), dan bila tidak tahan ada juga unsur saling adu kekuatan untuk mempengaruhi dan menekan juga sedikit memaksa, saya berusaha dengan berbagai cara untuk bisa menghindar jangan sampai terpengaruh oleh keadaan yang ada. Alasan yang paling jitu untuk menghindar adalah ke kamar ‘toilet’ atau turun joget dilantai dansa dengan gaya naluri saya saja, walau gerakannya kaku dan merasa lucu dengan diri sendiri pokoknya lakukan hal lain agar bisa menghindar, dari teman yang sedang minum, atau mengisi minuman di gelas dengan jus orange bila kembali duduk-duduk bersama. Tapi untuk urusan mempengaruhi saling kuat minum kalau atasan saya yang menyuruh, saya harus berusaha keras dengan berbagai alasan untuk tidak menyentuh miniman yang beralkohol, dan kalau teman rekan kerja mereka masih tetap menghargai saya, tak berani menekan saya. Semakin malam ruangan semakin panas oleh orang-orang berjoget, berdansa, tertawa, bernyanyi pokoknya apa saja yang menurut mereka malam ini adalah malam bersenang-senang. Berbotol-botol minuman beralkohol telah banyak yang habis, dan ada sebagian teman saya dan tamu yang lain yang sudah mulai agak mabuk, juga kepala saya mulai agak pusing bukan oleh minuman tapi oleh bau aroma minuman dan asap rokok dan saya tak tahan dengan suasana yang ada. Tak terasa menikmati gemerlapnya dunia malam yang luar biasa ini, sudah memasuki jam 03.00 dini hari, kamipun harus bubar dan pulang ke rumah masing-masing, ada beberapa teman yang sudah mabuk dan ada juga yang ‘pusing’ termasuk saya. Kalau saya bukan karena minuman tapi tiba-tiba saya meraasa loncat lagi kedunia lain dan asing sendiri. Tapi alhamdulillah saya selamat karena tak menyentuh dan meneguk minuman beralkohol sedikitpun. Sampai di rumah istri saya bingung, kok pulang sampai sepagi itu baru sampai rumah, karena pagi ini adalah hari pertama kami makan sahur. Sebelum makan sahur saya sempatkan dulu untuk mandi junub dan sholat taubat, memohon ampun kepada Allah atas segala yang telah saya alami. Setelah selesai makan sahur dan sholat subuh saya tidur dengan sangat nyenyak, ketika bangun paginya, perasaan saya menjadi sangat lain dan sangat sulit diceritakan, dan tak percaya telah melalui malam yang menurut saya sangat melelahkan. Karena malam itu hari Jum’at dan berarti dua hari besoknya saya libur, Sabtu dan Minggu saya manfaatkan untuk istirahat.

Malam itu, adalah malam yang sangat panjang menurut saya, habis makan enak di restaurant dan menikamani gemerlapnya dunia malam dan orang sering mengatakan ‘DUGEM’ (dunia gemerlap malam), itu adalah pengalaman pertama saya ber’dugem’ ria, dan saya berharap itulah pengalaman pertama dan sekaligus yang terakhir. Setelah kejadian itu saya berusaha untuk menolak secara halus bila diajak lagi. Dan ada juga ketika mengadakan rapat bersama, ketika sampai malam diajak juga untuk minum-minum, tapi saya sudah cukup mampu untuk menjaga diri. Disamping itu teman-teman, sudah sangat menghargai keyakinan saya. Ya Allah terima kasih ya Allah ... karena Engkau masih melindungi saya...!

Senin, 30 Agustus 2010

6 nasehat renungkan dan amalkan

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya..

Pertama,
"Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab : "orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu BENAR. Tetapi sesungguhnya yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN. Sebab itu adalah janji Allah SWT, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Q.S. Ali Imran 185)

Kedua,
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya menjawab : "negara Cina, bulan, matahari dan
bintang-bintang" .
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu
adalah BENAR.
Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Walau bagaimanapun caranya kita takkan mampu kembali ke masa lalu.
Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang
dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga,
"Apakah yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab : "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawaban itu BENAR kata Imam Ghozali. Tetapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah HAWA NAFSU (Q.S.Al-A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa
kita ke neraka.

Keempat,
"Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab : "besi dan gajah". Semua jawaban adalah BENAR, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Q.S. Al-Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, gunung-gunung, bahkan para malaikat semua tidak mampu ketika
Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga
banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tak mampu memegang
amanahnya.

Kelima,
"Apakah yang paling ringan di dunia ini?"
Ada? yang menjawab : "kapas, angin, debu dan daun-daunan" .
Semua itu BENAR kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Seringkali hanya karena pekerjaan, kita tinggalkan sholat kita.. Hanya karena hal duniawi, seringkali kita meninggalkan perintah sholat.

Dan pertanyaan keenam adalah,
"Apakah yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak : "pedang".
BENAR, kata Imam Ghozali, tapi sesungguhnya yang paling tajam itu adalah LISAN. Karena melalui lisan kita, manusia akan mudah untuk menyakiti hati dan melukai perasaan
saudaranya sendiri.

Teman, sekarang kita tahu bahwa hal yang paling dekat dengan diri kita itu adalah kematian, hal yang paling jauh dari diri kita itu adalah masa lalu, hal yang paling besar adalah hawa nafsu, hal paling berat adalah memegang amanah, hal yang paling ringan adalah meninggalkan shalat, dan hal yang paling tajam didunia ini sesungguhnya adalah lisan kita..

Maka mulai sekarang mari bersama-sama kita selalu renungkan, betapa selama ini kita tak pernah menyadari semua hal itu.. seringkali kita merasa sudah sempurna seakan bisa hidup selama-lamanya, padahal kita tak pernah sadar bahwa kematian itu sungguh betapa dekat.. Kita pun selalu menyianyiakan masa kini, karena merasa kita masih mempunyai masa depan, padahal kita takkan pernah mampu utk mengulang masa sekarang di masa yang akan datang.. Seringkali kita ikuti terus hawa nafsu kita, padahal betapa hawa nafsu itulah yang kelak bisa menjerumuskan kita ke lautan api neraka, seringkali kita melepas amanat yang kita pegang, dan seringkali kita begitu ringan untuk meninggalkan warisan dari Nabi Muhammad SAW, yaitu shalat.. Dan kitapun sering menggunakan lisan kita, untuk menyakiti perasaan orang lain, bahkan kepada ibunda kita sekalipun..

dari : Amalul A

Beli 'sosis'...!!?

Ceritanya ada seorang wanita Asia menikah dengan pria Inggris dan kemudian pindah ke London. Wanita itu kurang pandai berbahasa Inggris, tetapi dia mampu juga berkomunikasi dengan suaminya. Masalah baru muncul ketika dia harus berbelanja. Suatu hari, dia pergi ke tukang daging dan ingin membeli kaki sapi. Ia tidak mengerti cara menjelaskan apa yang ia mau beli, maka karena putus asa ia mengangkat roknya dan memperlihatkan pahanya. Si tukang daging rupanya mengerti dan ia pulang dengan kaki sapi. Besoknya, ia ingin dada ayam. Maka sekali lagi, karena ia tidak tahu dada ayam dalam bahasa Inggris, ia membuka bajunya dan mempertontonkan dadanya ke tukang daging. Dan wanita itu mendapat dada ayam. Hari ketiga, wanita itu butuh beli sosis. Dan ia membawa suaminya ke toko…..
Pertanyaan : Apa yang Anda pikir terjadi?
…………………….
…………………….
…………………….
…………………….
Hoeehh! Suaminya kan bisa bhs Inggris! Jangan mikir yg enggak2 deh…>

link:kaskus.us

Senin, 23 Agustus 2010

SKETSAKU (LANJUTAN 2)

6

Ayo...!! All you can eat ....! sejenak saya bingung mendengar ajakan tersebut, dari rekan kerja saya. Hari kamis tanggal 05 Agustus 2010, kita akan makan sepuas-puasnya di ‘CASASUKI’, demikian teman saya memperjelas informasi yang saya dengar tadi. Acara makan-makan tersebut adalah merupakan selamatan hari ulang tahun direktur tempat saya bekerja. Sekaligus penutup ‘makan besar’ karena beberapa hari lagi akan masuk bulan puasa ramadhan. Makan sepuas-puasnya sudah sering di lakukan, karena porsi makan teman-teman (termasuk saya..!!) memang cukup menyakinkan, seperti di Teabox, Paregu, Hanamasa dll. Tapi sebenarnya yang terpikirkan oleh saya bukan makan sepuas-puasnya karena saya menyadari bahwa urusan perut kalau mau sehat ‘kita harus makan ketika perut lapar dan berhenti sebelum kenyang’. Dan seberapa besarkah isi perut kita untuk bisa diisi dengan berbagai makanan !?. Disamping itu bila sedang “makan besar” dengan teman-teman kantor seperti itu, saya selalu teringat bagaimana keluarga (anak istri) saya di rumah mereka sedang makan apa !? dan masa-masa sulit saya. Walau demikian untuk hal selera makan, selera saya sebenarnya ‘selera rumahan’, artinya bagaimanapun enaknya makan di luar tetap saja yang paling enak makanan di rumah. Alhamdulillah untuk urusan dapur, istri saya memang senang memasak.

Merunut kembali masalah makanan, saya harus mengakui cerita masa kecil yang sangat prihatin dilajutkan dengan masa-masa kuliah lebih prihatin lagi. Ditambah lagi beberapa tahun setelah selesai kuliah waktu saya jadi pengangguran walaupun sambilan ikut membantu kakakku, saya pernah sakit karena alasan yang sangat sederhana, karena ‘kekurangan gizi’. Sekarang yang ada dihadapan saya adalah sesuatu yang sangat kontras, saya tinggal pilih apa yang akan saya makan, sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya. Ya Allah ..Alhamdulillah ya Allah...Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar Rahman : 13,16…). Walau demikian saya tetap berusaha untuk menahan diri, mengambil porsi sesuai dengan kemampuan yang bisa habiskan, dengan ‘takaran’ saya harus bisa berhenti sebelum saya benar-benar kenyang. Insya Allah saya tak akan lupa diri, karena porsi yang telah saya ambil harus dihabiskan sampai tuntas (tidak lebih tidak kurang pokoknya porsinya ! pas..!), dengan pelan-pelan dan meyakinkan saya akan selesaikan makanan yang ada, walaupun akhirnya saya yang paling akhir makannya karena yang lain sudah selesai. Saya kira penyebabnya adalah setiap makanan yang ada didepan saya, saya mencoba untuk benar-benar sangat menikmatinya, karena setiap makanan yang ada dihadapan saya, pasti akan mengingatkan saya, ketika masa-masa sulit yang telah saya lalui dan anak istri saya di rumah. Semua memang saya harus mensyukurinya. Apapun yang telah dan sedang saya makan kalau sudah masuk dalam perut sebenarnya semua ‘rasa’ hanya bisa dinikmati sampai di tenggorokan saja setelah itu apapun yang kita makan sisanya tetap merupakan ‘kotoran’.

Awal Juli 2010 alhamdulillah saya punya kesempatan menikmati liburan di Yogya selama tiga hari, kesempatan ini saya manfaatkan untuk menikmati makanan yang dulu belum sempat saya nikmati, dan yang biasa saya makan sehari-hari nasi kucing, pecel, tahu dan tempe bacem dan lain-lain makanan sederhana. Memahami apa yang telah saya makan, saya tak ada maksud apa-apa kecuali hanya ingin mengurai perjalanan hidup yang telah saya lalui, saya telah berhadapan dengan masalah kebutuhan dasar hidup saya, saya hanya ingin mengatakan betapa sangat bersyukurnya saya. Bisa menikmati apa yang sebelumnya tak terbayangkan oleh saya. Sebelumnya saya pernah merasakan bagaimana saya berpikir ‘tidak tahu harus makan apa besok !?. Ketika kehabisan bekal…!. Atau menyaksikan ibu saya yang kehabisan beras di dapur sehingga harus meminta kepada tetangga atau saudara. Aku tidak tahu harus bagaimana menceritakan, ketika harus mengantri beras….. Ya Allah masa pahit itu telah berlalu, Alhamdulillah Ya Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekarang, saya telah berhasil meraih kehidupan dunia dengan sempurna dan telah memiliki segalanya. Hidup sempurna bagi saya, bukan kita harus memiliki segalanya tapi hidup sempurna adalah kita bisa memanfaatkan dan menikmati sekaligus mensyukurinya apa yang kita miliki. Terima kasih Yaa... Allah..!!!

Senin, 16 Agustus 2010

Alhamdulillah...Ya Allah......!

Kelahiran putraku yang ketiga adalah sesuatu yang luar biasa, alhamdulillah lahir dengan normal dan sehat, proses kelahiran dibantu oleh bidan Kuswati, aku bersyukur karena bisa menunggu proses persalinannya dari bukaan pertama sampai dengan proses terakhir melahirkan.

Seminggu sebelumnya tanggal 14 Maret 2006 kami periksa dan di USG oleh Dokter kandungan, kondisinya sehat dan perkiraannya kurang lebih akan lahir tanggal 21 Maret 2006. Malam harinya Rabu tanggal 22 kami periksa ke bidan, bayinya belum juga ada tanda-tanda mau melahirkan, bahkan menurut perkiraan bidan kurang lebih seminggu lagi. Menunggu saat tanda mau melahirkan memang suatu ketegangan tersendiri. Pagi tanggal 23 Maret saya seperti biasa antar anak-anak ke sekolah jam 06.45, tapi sebenarnya agak khawatir juga dengan kondisi istri, dalam perjalanan mengantar anak-anak kesekolah hampir sampai ditempat sekolah, ada SMS dari istri, yang mengabarkan bahwa istri akan segera melahirkan dan saya harus segera kembali kerumah, alhamdulillah tetangga membantu mengantar ke bidan, aku tak ke kantor lagi langsung balik ke Bidan tempat persalinan istri.

Saya sampai di bidan jam 08.45 kondisi isrti sudah mulai agak mual-mual, menurut cerita istri pagi itu saat saya berangkat ngantar anak-anak kesekolah sebenarnya kondisinya sudah mulai tidak nyaman, jam 07.00 dia kekamar mandi ternyata sudah mulai ada “Flag lendir”, bolak balik kekamar mandi ada perasaan mulai mual-mual dan segala macam perasaan sebagai tanda-tanda proses melahirkan, jam 07.15 istri SMS ke saya untuk segera kembali ke rumah, jam 07.30 istri minta tolong ke tetangga Bapak Dodi untuk diantarkan ke bidan, alhamdulillah atas kebaikan tetangga tersebut istri diantar dan sekaligus ditemani oleh Bapak Dodi dan Eyang (ibunya) sampai saya datang, semoga amal kebaikan tetangga tersebut Allah membalasnya dengan berlipat ganda.

Setelah istri diperiksa oleh bidan ternyata ketubannya sudah pecah duluan, saya hanya bisa bermohon mudah-mudahan istriku bisa kuat menanggung beban yang cukup berat dalam proses persalinannya secara normal, karena dengan pecahnya ketuban dia akan mengalami kesulitan proses melahirkan, cairan ketuban adalah cairan untuk membantu mendorong proses bayinya supaya lebih mudah porses mual-mual saat melahirkan, sejak awal saya sampai ditempat bidan sudah ada “bukaan” satu, dan proses mualnya mulai agak tertib setiap 45 menit, dengan mual dan sakit yang luar biasa kami masih bisa sambil bercanda untuk menghibur istri, dalam hati saya senatiasa berzikir dan memohon mudah-mudahan Allah memudahkan proses persalinannya, tiga jam pertama ini saya merasakan betapa menderitanya istri saya, sampai tak tahan istri menjerit sekuat tenaga, rintihannya mengelurkan tiga bahasa mulai dari bahasa Sunda, Bima dan Indonesia juga zikir Astagfirillah, Suhanalah, Alhamdulillah, Lailahailallah, Allahu Akbar, pokoknya apa saja yang bisa membantu mengurangi rasa sakitnya yang luar biasa, begitu juga dengan saya mulai di tarik, dicekik, digenggam pokoknya apa aja kecuali tidak dicakar atau di pukul. Menjelang sholat duhur saya ijin ke masjid untuk sholat. Selesai sholat saya berdo’a semoga Allah memberikan kemudahan proses persalinan istri saya. Proses dari duhur sampai asar “mual”nya tidak teratur lagi, dan pembukaan sudah “bukaan empat”. Dari pagi sampai jam dua siang ini istri dibantu oleh Bidan Ika (asisten bidan Kuswati), Kurang lebih pukul dua siang Bidan Kuswati (Kerja Di Ramah Sakit Fatmawati sebagai Kepala Bidan, pagi ke kantor tugas diserahkan ke asisten bidan, sore buka praktek di Klinik rumah sendiri)) datang alhamdulillah bisa memberikan ketenangan sejenak, namun demikian proses persalinannya mulai melalui yang tersulit dari pukul 3 sore sampai jam 6 sore, pukul setengah 5 saya harus mengurus Rafif dan Rifki untuk jemput pulang sekolah, sehari ini adalah hari yang paling berat buatku, alhamdulillah ada yang bantu mpok dan mbak Ida datang saat Magrib, sebelum sholat magrib saya dipanggil oleh bu bidan untuk menjelaskan kondisi tersulit istriku, bila tidak ada perkembangan yang bagus dalam proses persalinannya akan dilakukan operasi, karena menjelang sholat magrib “bukaannya” masih pada posisi empat, aku benar-benar sangat pasrah, untuk menentukan keputusan harus dioperasi saya minta waktu ke bu bidan untuk sholat magrib dulu, sholat magrib kali ini sholat yang paling nikmat yang saya rasakan karena saya pasrahkan seluruh hidup saya dengan “air mata“ yang tak bisa kutahan mengalir, memohon “pertolongan” dari Allah untuk memudahkan proses persalinan istriku, karena kalau keadaannya harus di operasi berarti saya memerlukan biaya yang cukup banyak kurang lebih bu Bidan mengatakan Rp. 10.000.000.-, namun demikian atas izin Allah alhamdulillah selesai sholat Magrib aku melihat kondisi istriku dan bidan menyampaikan ada perkembangan bagus “bukaannya” udah mulai masuk bukaan 10, ya Allah aku benar-benar sangat bersyukur, pukul 07.13 hari Kamis tanggal 23 Maret 2006 saat azan ‘isya berkumandang anakku lahir, seorang anak laki-laki yang sempurna, subhanalah saya langsung melihat betapa besar karunia Allah untukku, aku langsung melihat proses keluarnya dan yang pertama kulihat adalah pancaran matanya Subhanallah, “Masa Allah”, alhamdulillah ya Allah Engakau telah menunjukan kebesarnMu ya Allah, terimalah rasa syukurku, dengan pancaran matanya semoga menjadikan anakku bisa melihat dunia dengan pancaran atas keAgungan dan kebesaran KaruniaMu, Alhamdulillah Allah mengabulkan do’a saya, terima kasih ya Allah. Setelah mata bayi terbuka bu bidan memukul pantatnya dan anakku menangis sekencang-kencangnya. Aku benar-benar sangat terharu. Setelah itu aku pamit sholat Isya’ ke masjid (kebetulan mesjid dekat), sambil bayinya dibersihkan oleh bu bidan, sepulang sholat Isya’ seperti biasa aku mengazankan (ditelinga kanan) dan mengqomatkan (ditelinga kiri) untuk anakku.

Setelah mengalami proses persalinan yang sangat melelahkan hari itu. Tengah malam ada keluhan dari istri susah buang air oleh bu bidan dibantu dengan memasang keteter, dengan terpasang “keteter” ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, karena itu berarti ada masalah yang cukup serius dengan proses setelah melahirkan. Setelah nginap semalam di tempat bu bidan kami pulang ke rumah, pulang ke rumah sendiri membuat istri merasa nggak nyaman dengan “keteter”nya, selama dirumah timbul masalah dengan urusan ‘buang air kecil’ dan keteter tak bias lagi mengatasi masalah ini, akhirnya kami telepon bu Bidan, saran bu Bidan karena masalahnya agak sedikit berat di sarankan agar istri di rawat inap aja di Rumah Sakit Fatmawati. Alahamdulillah atas kebaikan bu Bidan kami dijemput dengan mobilnya dan di antar ke RS Fatmawati, karena bu Bidan kerjanya di Rumah Sakit tersebut.

Selama istri dan bayi di rawat, saya harus berjuang lagi untuk mengurus sendiri anak-anakku, tapi Alhamdulillah bayinya tidak terlalu rewel, bolak balik saya harus mengurus istri dan bayi di rumah sakit, juga anak dua di rumah, dua minggu yang sangat melelahkan.

Proses melahirkan putra yang ke tiga menyisakan ‘trauma’ yang cukup pajang buat istriku, tapi bagi saya menyisakan pengalaman rohani yang sangat luar biasa karena betapa sangat nikmat dan indahnya saat-saat proses persalinan berlangsung, istri berjuang menjalani proses persalinan secara normal dan saya menjaganya dari awal sampai akhir serta berdoa dengan khusyu penuh pasrah kepada Allah, rasanya Allah begitu sangat dekat sehingga saya bisa mengadukan semua masalah yang sedang saya hadapi, dan akhirnya Allah melancarkan semua proses melahirkan. Walaupun banyak kendala Alhamdulillah bisa diatasi dengan penuh kesabaran. "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".

Rabu, 11 Agustus 2010

“Motor Tergeletak, Jatuh !”

Ada satu kejadian yang membuat saya berpikir tentang sesuatu bahwa apa yang menjadi pandangan kita benar, belum tentu baik akibatnya, kalau kita ngak tahu masalahnya.

Ceritanya berawal ketika saya mau pergi Jum’atan di Masjid IstiQamah dekat kantor saya, tempat kerja saya di Kompleks Plaza Golden Jalan R.S Fatmawati Jakarta Selatan, dari tempat saya kerja ke Masjid kurang lebih 1 km, karena ingin mendapat shaf didepan saya pergi seawal mungkin dengan teman saya Budiharto, dalam perjalanan kami melewati Ruko-Ruko, waktu kami melewati depan Ruko tempat Penjualan Mobil pinggir Jalan RS. Fatmawati kami melihat ada “Motor Honda GL Pro tergeletak”, yang sepertinya baru terjatuh di tempat parkir, dengan maksud ingin berbuat baik saya bersama teman mencoba membantu agar motor tersebut bisa “berdiri” dan tanpa “pikir macam-macam” dengan susah payah akhirnya kami berhasil “membangunkan” motor tersebut, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Masjid, tapi baru kira-kira 10 langkah, tiba-tiba kami diteriakin oleh pemilik warung dekat motor tersebut terjatuh, Pak motornya jangan diberdiriin...! memang sengaja di “tidurin” oleh pemiliknya karena tangkinya bocor, katanya !. Setelah itu kami kembali dan memeriksa tangkinya ternyata benar. Bocor. Dan memang motor tersebut kalau diberdiriin bensinnya menetes, pemiliknya sengaja memarkir dengan posisi “tergeletak”, akhirnya dengan susah payah kamipun harus kembalikan posisi motor tersebut, pada posisi semula, dengan lebih berat lagi karena harus hati-hati jangan sampai terjatuh. Dan kamipun melanjutkan lagi perjalanan ke Masjid untuk Jum’atan. Pulang Jum’atan kami melewati jalan yang sama, posisi motor tersebut masih “tergeletak”, dan semua orang yang baru melihat motor tersebut punya pikiran yang sama mau membantu seperti saya. Tapi setelah dijelasin, orang-orang jadi maklum. Dan saya hanya bisa tersenyum sendiri karena sudah “ngerti” masalahnya. Kenapa Motor di “Parkir” tergeletak tidur ...!. Orang baik harus ngerti apa yang dilakukannya, karena kalau tidak ! motor yang sengaja di”parkir” tergeletak, dengan kebaikannya dia akan membangunkannya padahal bisa berakibat fatal, bensin akan menetes kenama-mana dan habis. Susah payah dibangunin, akan lebih susah lagi dikembalikan ke posisi semula.
(SYARIFUDDIN)

Minggu, 08 Agustus 2010

aturan sederhana tentang Kebahagiaan

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
Bebaskan dirimu dari kebencian
Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan.
Hiduplah sederhana.
Berilah lebih banyak.
Berharaplah lebih sedikit.
Tersenyumlah.
Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.