7
Kerja di Jakarta, sebelumnya tak pernah terlintas dalam benakku, seperti air mengalir, saya mengalir saja. Dari Bima ke Yogya terus ke Bandung. Menikah. Beberapa bulan bersama istri tinggal di rumah kontrakan selanjutnya Istri diterima sebagai PNS dan dapat penempatan tugas di Lampung. Bolak balik Lampung Jakarta. Setelah beberapa tahun (kurang lebih 4 tahun) tugas istri di proses pidah ke Jakarta untuk ikut suami. Sampai akhirnya kamipun bisa kumpul kembali di Jakarta, istri sebagai PNS dan saya sebagai karyawan swasta, dirumah kontrakan daerah Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta Selatan. Alhamdulillah sekarang kami bertempat tinggal di Limo Depok.
Masuk ke dalam dunia dan lingkungan kerja memaksa saya untuk bisa menyesuaikan diri. Yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah pada hari pertama dan kedua masuk kerja sempat membuat saya mabuk dan muntah, mungkin karena ‘stres’ atau dinginnya AC seharian dalam kamar kerja. Sebelumnya memang saya terbiasa di jalanan. Terbiasa dengan panasnya matahari dan basah kuyup oleh hujan. Kerja keras. Ketekunan. Dan kesabaran. Tiga hal itulah yang menuntun saya setahap demi setahap memulai profesi sebagai karyawan. Untuk do’a dan tawakal kepada Allah itu sudah menjadi bagian hidup. Perusahaan tempat saya kerja memang tidaklah terlalu besar, masih dalam kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM). Alhamdulilah dengan kerja keras, ketekunan dan kesabaran saya sampai pada posisi Asisten Manager Accounting. Proses bekerja sebagai karyawan yang telah saya lalui sudah cukup memberi banyak nilai dalam hidup saya, atasan sudah sering ganti, begitupun dengan rekan kerja sudah sering keluar masuk.
Dengan posisi saya sebagai karyawan swasta, yang telah saya jalani, dan dibantu oleh istri sebagai pegawai negeri sipil, alhamdulillah kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya, walau tidak berlebihan, tapi bisa membuat keluarga kami menikamti hidup secara sederhana, cukup sandang pangan.
Proses interaksi dengan rekan kerja telah saya lalui dengan sangat berat saya harus menyesuaikan diri dalam segala hal, yang paling berat adalah ketika saya diajak makan-makan di Restaurant mewah di jalan Sudirman Jakarta oleh atasan saya, karena pada tahun itu mengalami peningkatan omzet penjualan yang cukup baik. Bersama teman-teman, malam sehari sebelum puasa Ramadhan tahun 2004, selesai makan-makan dilanjutkan menikmati ‘gemerlapnya dunia malam’ di hotel JW Marriott Mega Kuningan Jakarta. Perasaan saya waktu itu ‘sangat panik’, saya binggung, ketika masuk kedalam gedung tersebut sudah hampir tengah malam, setelah naik lift entah di lantai berapa saya lupa, kemudian naik tangga yang agak sempit dan agak remang-remang, setelah sampai ditempat masuklah kami dalam ruangan, tiba-tiba saya merasa sangat terasing, seakan saya masuk ke dalam dunia lain dan sangat asing, ruangannya remang-remang lampu warna warni kelap kelip berputar-putar, ruangan penuh dengan orang-orang yang berjoget dan ada panggung tempat group band beraksi mengiring seorang penyanyi, dan ada tulisan ‘club malam’ saya lupa namanya, musiknya sangat memekak telinga, bau asap rokok dan minuman menghiasi ruangan, setelah duduk-duduk, berkumpul dengan teman-teman ditempat yang sudah dipesan, semua pesan minum, sayapun bingung harus pesan apa, semua tak ada yang saya kenal kecuali ‘orange jus’, untung ada teman yang cukup menghargai kebingungan saya, karena dia tahu saya tak mimun minuman yang mengandung alkohol, dia menyarankan agar minum orange jus atau capucino, dan suasana dalam ruangan itu benar-benar sangat ramai, joget, dansa, dan bernyanyi, belum lagi ada saling ‘jago’ antara teman-teman mengenai masalah minuman (beralkohol), dan bila tidak tahan ada juga unsur saling adu kekuatan untuk mempengaruhi dan menekan juga sedikit memaksa, saya berusaha dengan berbagai cara untuk bisa menghindar jangan sampai terpengaruh oleh keadaan yang ada. Alasan yang paling jitu untuk menghindar adalah ke kamar ‘toilet’ atau turun joget dilantai dansa dengan gaya naluri saya saja, walau gerakannya kaku dan merasa lucu dengan diri sendiri pokoknya lakukan hal lain agar bisa menghindar, dari teman yang sedang minum, atau mengisi minuman di gelas dengan jus orange bila kembali duduk-duduk bersama. Tapi untuk urusan mempengaruhi saling kuat minum kalau atasan saya yang menyuruh, saya harus berusaha keras dengan berbagai alasan untuk tidak menyentuh miniman yang beralkohol, dan kalau teman rekan kerja mereka masih tetap menghargai saya, tak berani menekan saya. Semakin malam ruangan semakin panas oleh orang-orang berjoget, berdansa, tertawa, bernyanyi pokoknya apa saja yang menurut mereka malam ini adalah malam bersenang-senang. Berbotol-botol minuman beralkohol telah banyak yang habis, dan ada sebagian teman saya dan tamu yang lain yang sudah mulai agak mabuk, juga kepala saya mulai agak pusing bukan oleh minuman tapi oleh bau aroma minuman dan asap rokok dan saya tak tahan dengan suasana yang ada. Tak terasa menikmati gemerlapnya dunia malam yang luar biasa ini, sudah memasuki jam 03.00 dini hari, kamipun harus bubar dan pulang ke rumah masing-masing, ada beberapa teman yang sudah mabuk dan ada juga yang ‘pusing’ termasuk saya. Kalau saya bukan karena minuman tapi tiba-tiba saya meraasa loncat lagi kedunia lain dan asing sendiri. Tapi alhamdulillah saya selamat karena tak menyentuh dan meneguk minuman beralkohol sedikitpun. Sampai di rumah istri saya bingung, kok pulang sampai sepagi itu baru sampai rumah, karena pagi ini adalah hari pertama kami makan sahur. Sebelum makan sahur saya sempatkan dulu untuk mandi junub dan sholat taubat, memohon ampun kepada Allah atas segala yang telah saya alami. Setelah selesai makan sahur dan sholat subuh saya tidur dengan sangat nyenyak, ketika bangun paginya, perasaan saya menjadi sangat lain dan sangat sulit diceritakan, dan tak percaya telah melalui malam yang menurut saya sangat melelahkan. Karena malam itu hari Jum’at dan berarti dua hari besoknya saya libur, Sabtu dan Minggu saya manfaatkan untuk istirahat.
Malam itu, adalah malam yang sangat panjang menurut saya, habis makan enak di restaurant dan menikamani gemerlapnya dunia malam dan orang sering mengatakan ‘DUGEM’ (dunia gemerlap malam), itu adalah pengalaman pertama saya ber’dugem’ ria, dan saya berharap itulah pengalaman pertama dan sekaligus yang terakhir. Setelah kejadian itu saya berusaha untuk menolak secara halus bila diajak lagi. Dan ada juga ketika mengadakan rapat bersama, ketika sampai malam diajak juga untuk minum-minum, tapi saya sudah cukup mampu untuk menjaga diri. Disamping itu teman-teman, sudah sangat menghargai keyakinan saya. Ya Allah terima kasih ya Allah ... karena Engkau masih melindungi saya...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar