APA SIH " HIDAYAH " ITU ?
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah [1]: 6)
Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi'lu alamr) dari kata hadâyahdii. Hadâyahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi'lu al masdar dari kata ini.
Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya.
Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptanNya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Semua makhluk yang diciptakanNya akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.
Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan reaksi yang sesuai. Contoh, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.
Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.
Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini. Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur'an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.
Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT : ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69). Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini. .
PENUTUP Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayahNya. Wallahu a'lam. Baarakallaahu lakumaa wa baaraka 'alaikum 'May Allah swt shower His blessings upon you' Amin Sum'Aamin! Wassalamu alaikum wa rahmatullah wabarakatuh Dari berbagi sumber.
Selasa, 31 Mei 2011
Selasa, 18 Januari 2011
SKETSAKU (LANJUTAN 5)
Semua orang menikmati masa muda dengan caranya masing-masing. Dan masa muda yang bahagia kemungkinan sama satu dengan lainya, dan ketika masa muda tak bahagia akan dilalui dengan jalannya sendiri-sendiri. Kali ini saya ingin menulis tentang kisah, masa muda ketika saya menemukan cinta sejati saya yaitu istri saya saat ini. Dalam hidup ada waktunya, kita merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi dibalik semua cerita hidup, dan kisah indah jatuh cinta, ada saja bagian dimana kita merasakan sakit hati (patah hati), kisah yang ingin saya sampaikan kali ini sebenarnya membuat saya malu sendiri, tapi saya mencoba untuk mengatakan bahwa, apa yang ingin saya cerita ini, semoga tidak akan menyinggung, orang-orang yang pernah saya kenal, karena pada sketsa kali ini, saya merasa sangat peka, takut menyakiti hati orang lain, dan tak bisa mengurai semua kejadian yang telah saya lalui, dengan baik, karena ada saja beberapa kejadian yang tak mampu saya urai dengan kata-kata, dan ada bagian yang saya lupa. Namun demikian semoga saja bisa mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Apapun itu, saya harus mengakui pernah merasakan jatuh cinta pada seorang gadis, karena pada awalnya (menurut saya pada waktu itu) cerita ini sangat indah, saya merasakan betapa sangat bahagianya saya bisa mencintai seorang gadis pada waktu itu. Tapi indahnya kisah romantis, ternyata hanya menjadi bagian dari hidup saya, dibalik semua kisah yang telah saya jalani, saya berharap ada pelajaran yang sangat berharga untuk saya bagi, walau saya bukan manusia sempurna, tentunya ada beberapa kekurangan yang saya miliki pada saat itu, bisa berupa karena saya kurang percaya dengan diri sendiri, atau tidak konsisten dengan apa yang telah saya ucapkan atau mungkin saat itu kondisi saya lahir batin sangat labil. Namun Akhir dari semua yang pernah saya alami menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam perjalanan hidup saya.
Berawal dari pertemuan teman-teman di ROMBO (foRum kOMunikasi Bima dOmpu) mahasiswa Bima – Dompu tahun 1992, tempat pertemuannya adalah di jalan Sinom (ini sangat unik karena tempat tersebut adalah rumah orang tua Istri saya), saya sangat tertarik pada pandangan pertama, pada seorang mahasiswi IKIP Bandung (sebelum jadi UPI sekarang). Singkat cerita ternyata gadis tersebut adalah temannya, tetangga (adik-adik mahasiswa) kontrakan saya di Dago (Cirapuhan). Akhirnya saya ada jalan untuk bisa berkenalan dengan gadis tersebut. Gadis tersebut ternyata bernama Hasina. Kamipun bisa berkenalan dan berpacaran. Walaupun sebelumnya saya pernah mengenal gadis lain, waktu masa-masa SMA atau masa-masa kuliah di Yogya, tapi dengan Hasina saya mulai mengenal bagaimana mencintai seorang gadis, lahir batin saya belajar mengenal cinta, sayapun mengakui banyak belajar mencintai, dari Hasina. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Setelah kami sudah mengenal satu sama lain, Hasina mulai terbuka dengan saya, dan menceritakan pengalaman hidupnya, kamipun saling mendukung satu sama lain, saling memahami
dan menerima keadaan apa adanya. Walau selisih umur kami kurang lebih 6 tahun, sebenarnya dia lebih matang dari umurnya. Penuh pengertian dan perhatian. Dia becerita tentang pengalaman hidupnya, pernah dijodohkan oleh orang tuanya dan sudah pernah bertunangan. Tapi sempat terjadi perselihan dan akhir putus. Karena putusnya pertunangan tersebut, Hasina dengan orangtuanya sempat terjadi perselihan, sehingga orangtuanya menghukum sampai diikat dan dipukul. Tapi dia berutung bisa melanjutkan kuliah di IKIP Bandung, tanpa ujian seleksi masuk mahasiswa baru, langsung diterima sebagai mahasiswi, karena secara akademis Hasina cukup cerdas. Sebenarnya pemuda yang mau dijodohkan dengannya, cukup cerdas dan berhasil. Masih saudara dekatnya juga. Hal lain juga Hasina bercerita banyak, sehingga saya bisa mengenal secara baik lahir batin. Dari segala sisi saya bisa menerima Hasina, karena dia sangat terbuka untuk saya ketahui siapa dia sebenarnya. Walaupun ada sebagian dari hidup dia, yang dia rahasiakan, tapi tak mengurangi saya untuk mengenal Hasina lebih baik.
Indahnya masa pacaran saya manfaatkan, untuk belajar bagaimana berusaha mencintai Hasina, awal-awal perkenalan hampir setiap hari saya usahakan untuk bisa memperhatikan Hasina. Tapi ada beberapa kejadian yang menjadi pelajaran, seumur hidup saya, tentang menjaga nilai-nilai agama terutama menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Agama. Pernah suatu malam Hasina menderita sakit, saya tidak tahu sakitnya apa, karena dia menutup diri tentang penyakitnya, tapi dia menginginkan saya agar bisa menjaganya sampai pagi, saya memenuhi keinginannya, Alhamdulillah saya ‘selamat’ karena bisa selalu menjaga diri, cara yang saya lakukan adalah, tetap berusaha menjaga sholat saya, dan saya berpakaian tebal, celana berlapis empat dan baju/kaos berlapis tiga ditambah Jaket atau rompi. Dan bila waktunya saya selalu pamit untuk segera pulang, walau itu tengah malam dan sempatkan untuk sholat malam dulu di masjid IKIP Bandung, bahkan ada beberapa kali yang memaksa saya untuk tidur di emperan masjid IKIP Bandung, saya sering menangis di sini, karena alasan tertentu, terutama ketika saya merenungi perjalannan hidup saya. Dan saya juga sering menginap ditempat kostnya saudara saya (adik sepupu), mahasiswa IKIP Bandung juga. Pada masa itu ujian terberat adalah, menjaga diri dari perbuatan yang mendekati zina, saya memang sedang dimabuk cinta, tapi saya juga tak lupa diri. Kesempatan memang ada, itulah ujian terberat keimanan saya, alhamdulillah saya bisa menjaga diri untuk melakukan diluar batas ketentuan agama. Keyakinan saya waktu itu adalah, saya hanya ingin menjaga Hasina, menemaninya belajar, memotivasi semangat belajarnya agar tercapai apa yang diinginkannya, dan mencintainya sepenuh hati saya, apa adanya keadaan Hasina. Pada waktu itu saya, sedang membantu usaha kakak saya, dan kuliah saya sudah selesai.
Saya pernah mengantar Hasina pulang ketempat saudaranya di Tasikmalaya, dalam perjalanan kami bercerita banyak, bercerita tentang mimpi-mimpi kami, saya masih ingat ketika lewat sebuah daerah persawahan, ada satu rumah kecil ditengah sawah, yang cukup asri dan sederhana, Hasina ingin sekali punya rumah seperti itu. Kami juga sering duduk – duduk di taman halaman IKIP Bandung, bahkan mengantar dan menjemputnya sampai ke raung kuliahnya. Dan banyak hal telah kami lalui, dengan sangat indah pada waktu itu, Dan cerita mengalir begitu saja, saya memang bisa menikmatinya, karena saya masih begitu yakin bisa mencintai Hasina, walau dengan rasa sedih aku harus mengatakannya, di saat-saat seperti inilah, kenangan demi kenangan mengalir, saya berat mengatakannya tapi apapun yang telah saya rasakan, saya harus mengakuinya. Walaupun akhirnya kami menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun.
Pernah suatu waktu, kami bercermin bersama, dalam cermin tersebut Hasina mengatakan kepada saya bahwa dia merasa sangat sedih, karena apa yang dilihatnya dalam cermin tersebut bukan wajah saya tapi seperti melihat wajah orang lain, tapi entah siapa, dan dia menantang saya, agar segera melamarnya, sebelum keduluan orang lain. Karena kondisi saya waktu itu, masih sangat labil, belum punya pekerjaan tetap, saya belum bisa mengambil keputusan yang tegas. Kamipun keluar jalan-jalan keliling kota Bandung, jalan kaki dan naik angkutan umum, dia sempat merasa malu, karena ada sesuatu yang dia sembunyikan, ternyata itu adalah saat-saat terakhir kami jalan bersama. Sayapun menyadari, bahwa kondisinya menjadi tak realistis, karena sebagai laki-laki saya harus bisa bertanggungjawab dan tegas menentukan sikap, saya harus menyadari kenyataan yang saya hadapi, bahwa saya belum punya apa-apa, artinya saya mungkin saja bisa mencintai Hasina, dan kenyataannya kalaupun saya benar-benar sangat mencintainya, saya harus kuat lahir batin. Minimal saya harus bisa menghidupi diri saya sendiri, padahal kenyataanya saya masih tergantung dengan ‘orderan’ kakak saya. Dan mungkin, bisa saja memberikan pengertian kepada Hasina agar bersabar dulu, beri saya kesempatan untuk berusaha, karena setelah kuliah dan meraih ke’sarjanaan’, saya memang sempat bingung apa yang harus aku lakukan, kecuali hanya membantu usaha kakak saya. Dengan segala kehawatiran dan kebingungan yang saya hadapi akhirnya Hasina tak tahan juga. Dan Hasina mengambil sikap sendiri, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan saya terhadapnya. Sayapun memakluminya, kalaupun saya terpuruk itu semua karena kesalahan saya sendiri, dan tidak mau berusaha lebih keras. Isi hati dan pikiran saya bisa saja curuhkan sepenuhnya buat Hasina, tapi kenyataan hidup yang saya hadapi, saya harus mengakuinya tak mungkin saya mengajak Hasina untuk hidup susah. Dan ketika masa-masa sekolah maupun kuliah, saya bisa menunjukkan kemampuan terbaik saya, untuk menjadi anak yang berbakti dan cerdas sehingga bisa lulus tebaik waktu SMA juga bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan kalaupun akhirnya saya menghadapi kenyataan hidup yang cukup pahit karena tidak mampu sukses dengan hidup lebih baik, maka tak mungkin saya akan menyalahkan orang lain kecuali saya harus bangkit melakukan hal yang terbaik yang bisa saya lakukan.
Kisah selanjutnya cukup tragis buat saya, ternyata dia mencoba berkenalan dengan lelaki lain, dan Hasinapun berpindah ke lain hati, dia bersama lelaki lain. Dan kamipun putus. Pada waktu itu saya tidak tahu persis, apa yang menyebabkan, dia menghianati saya. Yang saya sadari adalah, karena kondisi saya sendiri yang belum mapan, dan saya sangat labil. Saat itu hati saya benar-benar sangat hancur. Beberapa hari saya merasa seperti orang gila !. Dan beberapa hari selanjutnya saya sering menangis sendiri, karena dengan Hasina saya benar-benar sangat mencintainya, tapi dalam keadaan jatuh yang terpuruk seperti itu, saya mencoba mengoreksi diri sendiri, dengan lebih meningkatkan kualitas sholat tahajud saya, beberapa hari saya malakukan sholat tahajud tak putus-putus, dan saya menangis sejadi-jadinya, menyesali setiap kejadian yang telah saya lalui bersama Hasina. Yang membuat saya sangat sedih adalah saya tidak mampu membimbing Hasina bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Saya merasa gagal. Karena beberapa tahun kemudian saya dengar kabar Hasina tidak selesai kuliahnya. Dan Hasina jadi nikah dengan pemuda pilihannya tersebut, walaupun keadaannya tidak lebih baik. Saya hanya bisa prihatin, dan tak bisa berbuat apa-apa karena Hasina telah menjadi milik orang lain.
Saat itu, saya melakukan beberapa hari sholat tobat. Kurang lebih hampir tiga bulan hidup saya berantakan. Saya mulai menata lagi hidup saya dari nol. Setahap demi setahap, saya bangkit mulai melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Saya sempat kerja sebagai tenaga sales di sebuah perusahaan asuransi. Dan ikut traning untuk mengisi waktu luang, agar bisa focus memperbaiki diri saya. Saya berusaha keras membenahi lagi diri saya sendiri, dan memperbaiki hubungan saya dengan kakak saya, dengan membantu semaksimal mungkin usaha yang di jalankan oleh kakak saya, karena sebelumnya saya sebagian besar banyak menghabiskan waktu bersama Hasina, yang pernah saya cintai tersebut. Sampai akhirnya dengan bantuan kakaknya saya, saya ditawarkan untuk bekerja di Jakarta, melalui temannya.
Setelah kerja di Jakarta, Alhamdulillah keadaan saya berubah, saya mulai membenahi diri saya sendiri, saya total merubah diri saya, dan pengalaman saya bersama Hasina, menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya, saya mulai kembali mengenal diri saya, waktu kuliah saya adalah anak masjid, yang sering aktif di kegiatan masjid. Setelah semuanya membaik, dan kesibukan kantor yang cukup padat, saya mulai belajar mencintai gadis lagi, tapi saya tidak mau lagi seperti yang dulu, saya harus mempersiapkan diri secara matang diri saya sendiri, dan yakin dengan diri sendiri. Sambil memperbaiki kualitas sholat, saya senantiasa berdo’a kepada Allah, memohon diberikan jodoh yang terbaik. Saya punya keyakinan tak perlu lagi, pacar-pacaran. Semuanya tergantung diri kita sendiri, semaksimal mungkin saya membenahi diri saya sendiri. Setelah punya pendapatan sendiri sayapun focus membantu adik-adik saya. Dan membekali diri saya dengan berusaha kerja lebih tekun dan sabar.
Alhamdulillah, walaupun kenangan indah bersama Hasina sangat sulit dilupakan, tapi saya harus bangkit untuk membenahi dan memperbaiki diri saya, akhirnya kepercayaan diri saya mulai bangkit, bisa jadi semua yang telah saya lalui adalah karena ada kelemahan dan kekurangan dalam diri saya. Saya tidak boleh terlena dan terlalu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, saya mencoba untuk mawas diri, pengalaman bersama Hasina adalah noda dalam perjalanan hidup saya, hikmah dari semua kejadian yang telah saya lalui bersama Hasina adalah, bagaimana perjuangan saya menjaga diri, melakukan hal-hal diluar batas, apa yang dilarang oleh agama saya berusaha menghindarinya sejauh-jauhnya. Ujiannya sangat luar biasa yang telah saya lalui, tapi Alhamdulillah saya selamat, setelah saya renungi semuanya, saya harus lebih hati-hati lagi.
Setelah saya punya keberanian untuk mencintai seorang gadis, dengan bantuan kakak, dan atas ijin Allah saya di bukakan jalan untuk bisa berkenalan dengan, gadis idaman saya, yang menjadi istri saya saat ini, saya di perkenalkan dengan seorang gadis, putrinya seorang tokoh di Bandung, walau demikian sebenarnya gadis tersebut, saya suka sudah lama, dan saya pendam beberapa tahun lalu saat pertama kali saya datang ke Bandung, sebelum saya kenal dengan Hasina, tapi saat itu saya belum punya keberanian untuk mengungkapkannya. Rasa suka saya pendam bertahun-tahun. Perjuangan yang tidak mudah. Apalagi saya sempat ketemu dengan Hasina di rumah gadis idaman saya tersebut. Yang akhirnya saya gagal. Gadis yang menjadi idaman saya tersebut adalah yang menjadi Istri saya sekarang.
Alhamdulillah, pertemuan dengan istri saya menjadi sesuatu yang sangat indah dalam hidup saya, Allah menyempurnakan nikmatNya buat saya, dan inilah hidup saya. Allah benar-benar menolong saya. Kisahnya menjadi sangat indah buat saya sendiri. Tak terbayangkan oleh saya, bahwa orang yang pertama kali saya jumpa ketika pertama kali datang ke Bandung menjadi teman hidup saya selamanya. Kisah cinta saya menjadi sangat nyata di hadapan saya, saya telah ditinggal begitu saja oleh seorang gadis yang saya cintai, ketika saya mencoba mengukur perasaan saya, ternyata kenyataanya dalam diri kita ada cinta dan nafsu, keduanya sangat tipis perbedaannnya, begitu saya sadari, jodoh adalah ketentuan dari Allah, terbukalah seluruh hidup saya....karena Allah telah memberikan jodoh yang terbaik buat saya yaitu istri saya sekarang....!
Pertemuan kami Alhamdulillah, sesuai syariat karena pertama-tama saya langsung menyampaikan ke orang tuannya, setelah saya sampaikan, orang tua menyampaikan ke anaknya maksud dan tujuan saya, melihat keseriusan saya orang tua menanyakan ke anaknya. Alhamdulillah saya diterima. Karena perasaan telah saya pendam bertahun-tahun, walau gadis pilihan saya yang akan menjadi istri saya tak mengetahuinya, tapi saya merasa telah mengenal beberapa tahun yang lalu, sehingga saya tak memerlukan waktu lagi untuk lebih mengenalnya. Akhirnya melalui orang tua, saya memberanikan diri untuk melamarnya. Niat saya, kami akan menjalani masa-masa indah setelah kami menjadi suami istri. Kenangan dan cerita indahpun telah kami lalui. Sampai hari ini (Jum’at tanggal 17 Desember 2010) tak terasa kami telah melalui bersama selama 15 tahun.
Buat Istriku Tersayang....! SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN kita yang ke 15. Terima kasih Alahamdulillah hari ini telah 15 tahun, jadi pendampingku yang setia, udah jadi Istri yang baik dan sesuai dengan harapan serta mimpiku ...udah jadi IBU yang baik buat Luqman Rafif, Rifki Alaudin dan Muhamad Kahfi Al Bana .. Jangan pernah berhenti untuk selalu bersyukur dan bertakwa pada Alloh SWT,... mohon maaf kalau selama ini Suamimu belum bisa memberikan yang terbaik ... setiap hari saya akan perbaiki diri, Insya Alloh menjadi lebih baik,..dan lebih sabar ... ISTRIKU, terimakasih sudah menjadi pelipur lara dan penghilang rasa sedih saya selama ini. menjadi penyejuk hati dan mata selama ini.... terimakasih saat saat kita merasakan kebahagiaan bersama..... terimakasih sudah hadir setiap hari disamping saya,... juga jadi orang pertama yang saya lihat kalau bangun tidur ... semoga kesabaran 'MAMA' selama ini diganti dengan syurga oleh Alloh SWT, semoga anak kita menjadi anak yang sholeh.. Semoga keluarga kita menjadi Keluarga Sakinah, mawadah warahmah....... dan semoga kita semakin kuat dan kompak menghadapi hari esok ...Amien. Ya Allah jadikanlah Anak dan istriku menjadi penyejuk hati dan pandanganku...! dari YANG SELALU MENCINTAIMU DAN SELAMAMNYA............ Pak UDIN....(Sang Suami...)
Kenapa bagian dalam hidup saya seperti ini perlu saya ceritakan dalam ‘sketsa’ saya, karena saya melihat sangat penting untuk diketahui oleh anak-anak saya, ataupun siapa saja yang akan mengenal saya. Katakanlah saya memang punya obsesi tentang seorang wanita, dan saya pernah mengenal beberapa wanita, tapi Hasina adalah seorang wanita yang pernah hadir dalam hidup saya, dan tentunya punya kenangan tersendiri. Dan itu berarti, saya tak bisa menutup diri tentang masa lalu yang telah saya lalui bersama Hasina. Sekarang saya telah menjalani hidup saya dengan bahagia bersama keluarga saya, anak dan istri saya. Kalau hidup adalah sebuah pilihan, pilihan hidup bahagia dengan keluarga adalah pilihan terbaik saya. Dan apapun kenangan dan cerita masa lalu itu semua adalah cerita hidup. Dan yang paling membahagiakan saya adalah Tuhan telah menunutun saya dengan cara yang sangat luar biasa, yaitu mempertemukan saya dengan seorang perempuan yang sekarang menjadi istri saya. Semua orang punya cerita masa muda, dan cerita masa muda saya, saya jalani dengan sederhana dan apa adanya, dan kisah cinta saya dengan Hasina walau agak sedikit telat menurut umur, saya telah menemukan pelajaran yang sangat berharga, walaupun berakhir dengan sakit hati. Tapi dibalik semua itu saya menemukan hikamh hidup saya. Setidaknya bagaimana rasanya sakit hati. Sekali lagi saya ingin tegaskan bahwa saya hanyalah manusia biasa, yang mencoba ingin memperbaiki hidup agar bisa lebih baik.
Berawal dari pertemuan teman-teman di ROMBO (foRum kOMunikasi Bima dOmpu) mahasiswa Bima – Dompu tahun 1992, tempat pertemuannya adalah di jalan Sinom (ini sangat unik karena tempat tersebut adalah rumah orang tua Istri saya), saya sangat tertarik pada pandangan pertama, pada seorang mahasiswi IKIP Bandung (sebelum jadi UPI sekarang). Singkat cerita ternyata gadis tersebut adalah temannya, tetangga (adik-adik mahasiswa) kontrakan saya di Dago (Cirapuhan). Akhirnya saya ada jalan untuk bisa berkenalan dengan gadis tersebut. Gadis tersebut ternyata bernama Hasina. Kamipun bisa berkenalan dan berpacaran. Walaupun sebelumnya saya pernah mengenal gadis lain, waktu masa-masa SMA atau masa-masa kuliah di Yogya, tapi dengan Hasina saya mulai mengenal bagaimana mencintai seorang gadis, lahir batin saya belajar mengenal cinta, sayapun mengakui banyak belajar mencintai, dari Hasina. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Setelah kami sudah mengenal satu sama lain, Hasina mulai terbuka dengan saya, dan menceritakan pengalaman hidupnya, kamipun saling mendukung satu sama lain, saling memahami
dan menerima keadaan apa adanya. Walau selisih umur kami kurang lebih 6 tahun, sebenarnya dia lebih matang dari umurnya. Penuh pengertian dan perhatian. Dia becerita tentang pengalaman hidupnya, pernah dijodohkan oleh orang tuanya dan sudah pernah bertunangan. Tapi sempat terjadi perselihan dan akhir putus. Karena putusnya pertunangan tersebut, Hasina dengan orangtuanya sempat terjadi perselihan, sehingga orangtuanya menghukum sampai diikat dan dipukul. Tapi dia berutung bisa melanjutkan kuliah di IKIP Bandung, tanpa ujian seleksi masuk mahasiswa baru, langsung diterima sebagai mahasiswi, karena secara akademis Hasina cukup cerdas. Sebenarnya pemuda yang mau dijodohkan dengannya, cukup cerdas dan berhasil. Masih saudara dekatnya juga. Hal lain juga Hasina bercerita banyak, sehingga saya bisa mengenal secara baik lahir batin. Dari segala sisi saya bisa menerima Hasina, karena dia sangat terbuka untuk saya ketahui siapa dia sebenarnya. Walaupun ada sebagian dari hidup dia, yang dia rahasiakan, tapi tak mengurangi saya untuk mengenal Hasina lebih baik.
Indahnya masa pacaran saya manfaatkan, untuk belajar bagaimana berusaha mencintai Hasina, awal-awal perkenalan hampir setiap hari saya usahakan untuk bisa memperhatikan Hasina. Tapi ada beberapa kejadian yang menjadi pelajaran, seumur hidup saya, tentang menjaga nilai-nilai agama terutama menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Agama. Pernah suatu malam Hasina menderita sakit, saya tidak tahu sakitnya apa, karena dia menutup diri tentang penyakitnya, tapi dia menginginkan saya agar bisa menjaganya sampai pagi, saya memenuhi keinginannya, Alhamdulillah saya ‘selamat’ karena bisa selalu menjaga diri, cara yang saya lakukan adalah, tetap berusaha menjaga sholat saya, dan saya berpakaian tebal, celana berlapis empat dan baju/kaos berlapis tiga ditambah Jaket atau rompi. Dan bila waktunya saya selalu pamit untuk segera pulang, walau itu tengah malam dan sempatkan untuk sholat malam dulu di masjid IKIP Bandung, bahkan ada beberapa kali yang memaksa saya untuk tidur di emperan masjid IKIP Bandung, saya sering menangis di sini, karena alasan tertentu, terutama ketika saya merenungi perjalannan hidup saya. Dan saya juga sering menginap ditempat kostnya saudara saya (adik sepupu), mahasiswa IKIP Bandung juga. Pada masa itu ujian terberat adalah, menjaga diri dari perbuatan yang mendekati zina, saya memang sedang dimabuk cinta, tapi saya juga tak lupa diri. Kesempatan memang ada, itulah ujian terberat keimanan saya, alhamdulillah saya bisa menjaga diri untuk melakukan diluar batas ketentuan agama. Keyakinan saya waktu itu adalah, saya hanya ingin menjaga Hasina, menemaninya belajar, memotivasi semangat belajarnya agar tercapai apa yang diinginkannya, dan mencintainya sepenuh hati saya, apa adanya keadaan Hasina. Pada waktu itu saya, sedang membantu usaha kakak saya, dan kuliah saya sudah selesai.
Saya pernah mengantar Hasina pulang ketempat saudaranya di Tasikmalaya, dalam perjalanan kami bercerita banyak, bercerita tentang mimpi-mimpi kami, saya masih ingat ketika lewat sebuah daerah persawahan, ada satu rumah kecil ditengah sawah, yang cukup asri dan sederhana, Hasina ingin sekali punya rumah seperti itu. Kami juga sering duduk – duduk di taman halaman IKIP Bandung, bahkan mengantar dan menjemputnya sampai ke raung kuliahnya. Dan banyak hal telah kami lalui, dengan sangat indah pada waktu itu, Dan cerita mengalir begitu saja, saya memang bisa menikmatinya, karena saya masih begitu yakin bisa mencintai Hasina, walau dengan rasa sedih aku harus mengatakannya, di saat-saat seperti inilah, kenangan demi kenangan mengalir, saya berat mengatakannya tapi apapun yang telah saya rasakan, saya harus mengakuinya. Walaupun akhirnya kami menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun.
Pernah suatu waktu, kami bercermin bersama, dalam cermin tersebut Hasina mengatakan kepada saya bahwa dia merasa sangat sedih, karena apa yang dilihatnya dalam cermin tersebut bukan wajah saya tapi seperti melihat wajah orang lain, tapi entah siapa, dan dia menantang saya, agar segera melamarnya, sebelum keduluan orang lain. Karena kondisi saya waktu itu, masih sangat labil, belum punya pekerjaan tetap, saya belum bisa mengambil keputusan yang tegas. Kamipun keluar jalan-jalan keliling kota Bandung, jalan kaki dan naik angkutan umum, dia sempat merasa malu, karena ada sesuatu yang dia sembunyikan, ternyata itu adalah saat-saat terakhir kami jalan bersama. Sayapun menyadari, bahwa kondisinya menjadi tak realistis, karena sebagai laki-laki saya harus bisa bertanggungjawab dan tegas menentukan sikap, saya harus menyadari kenyataan yang saya hadapi, bahwa saya belum punya apa-apa, artinya saya mungkin saja bisa mencintai Hasina, dan kenyataannya kalaupun saya benar-benar sangat mencintainya, saya harus kuat lahir batin. Minimal saya harus bisa menghidupi diri saya sendiri, padahal kenyataanya saya masih tergantung dengan ‘orderan’ kakak saya. Dan mungkin, bisa saja memberikan pengertian kepada Hasina agar bersabar dulu, beri saya kesempatan untuk berusaha, karena setelah kuliah dan meraih ke’sarjanaan’, saya memang sempat bingung apa yang harus aku lakukan, kecuali hanya membantu usaha kakak saya. Dengan segala kehawatiran dan kebingungan yang saya hadapi akhirnya Hasina tak tahan juga. Dan Hasina mengambil sikap sendiri, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan saya terhadapnya. Sayapun memakluminya, kalaupun saya terpuruk itu semua karena kesalahan saya sendiri, dan tidak mau berusaha lebih keras. Isi hati dan pikiran saya bisa saja curuhkan sepenuhnya buat Hasina, tapi kenyataan hidup yang saya hadapi, saya harus mengakuinya tak mungkin saya mengajak Hasina untuk hidup susah. Dan ketika masa-masa sekolah maupun kuliah, saya bisa menunjukkan kemampuan terbaik saya, untuk menjadi anak yang berbakti dan cerdas sehingga bisa lulus tebaik waktu SMA juga bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan kalaupun akhirnya saya menghadapi kenyataan hidup yang cukup pahit karena tidak mampu sukses dengan hidup lebih baik, maka tak mungkin saya akan menyalahkan orang lain kecuali saya harus bangkit melakukan hal yang terbaik yang bisa saya lakukan.
Kisah selanjutnya cukup tragis buat saya, ternyata dia mencoba berkenalan dengan lelaki lain, dan Hasinapun berpindah ke lain hati, dia bersama lelaki lain. Dan kamipun putus. Pada waktu itu saya tidak tahu persis, apa yang menyebabkan, dia menghianati saya. Yang saya sadari adalah, karena kondisi saya sendiri yang belum mapan, dan saya sangat labil. Saat itu hati saya benar-benar sangat hancur. Beberapa hari saya merasa seperti orang gila !. Dan beberapa hari selanjutnya saya sering menangis sendiri, karena dengan Hasina saya benar-benar sangat mencintainya, tapi dalam keadaan jatuh yang terpuruk seperti itu, saya mencoba mengoreksi diri sendiri, dengan lebih meningkatkan kualitas sholat tahajud saya, beberapa hari saya malakukan sholat tahajud tak putus-putus, dan saya menangis sejadi-jadinya, menyesali setiap kejadian yang telah saya lalui bersama Hasina. Yang membuat saya sangat sedih adalah saya tidak mampu membimbing Hasina bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Saya merasa gagal. Karena beberapa tahun kemudian saya dengar kabar Hasina tidak selesai kuliahnya. Dan Hasina jadi nikah dengan pemuda pilihannya tersebut, walaupun keadaannya tidak lebih baik. Saya hanya bisa prihatin, dan tak bisa berbuat apa-apa karena Hasina telah menjadi milik orang lain.
Saat itu, saya melakukan beberapa hari sholat tobat. Kurang lebih hampir tiga bulan hidup saya berantakan. Saya mulai menata lagi hidup saya dari nol. Setahap demi setahap, saya bangkit mulai melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Saya sempat kerja sebagai tenaga sales di sebuah perusahaan asuransi. Dan ikut traning untuk mengisi waktu luang, agar bisa focus memperbaiki diri saya. Saya berusaha keras membenahi lagi diri saya sendiri, dan memperbaiki hubungan saya dengan kakak saya, dengan membantu semaksimal mungkin usaha yang di jalankan oleh kakak saya, karena sebelumnya saya sebagian besar banyak menghabiskan waktu bersama Hasina, yang pernah saya cintai tersebut. Sampai akhirnya dengan bantuan kakaknya saya, saya ditawarkan untuk bekerja di Jakarta, melalui temannya.
Setelah kerja di Jakarta, Alhamdulillah keadaan saya berubah, saya mulai membenahi diri saya sendiri, saya total merubah diri saya, dan pengalaman saya bersama Hasina, menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya, saya mulai kembali mengenal diri saya, waktu kuliah saya adalah anak masjid, yang sering aktif di kegiatan masjid. Setelah semuanya membaik, dan kesibukan kantor yang cukup padat, saya mulai belajar mencintai gadis lagi, tapi saya tidak mau lagi seperti yang dulu, saya harus mempersiapkan diri secara matang diri saya sendiri, dan yakin dengan diri sendiri. Sambil memperbaiki kualitas sholat, saya senantiasa berdo’a kepada Allah, memohon diberikan jodoh yang terbaik. Saya punya keyakinan tak perlu lagi, pacar-pacaran. Semuanya tergantung diri kita sendiri, semaksimal mungkin saya membenahi diri saya sendiri. Setelah punya pendapatan sendiri sayapun focus membantu adik-adik saya. Dan membekali diri saya dengan berusaha kerja lebih tekun dan sabar.
Alhamdulillah, walaupun kenangan indah bersama Hasina sangat sulit dilupakan, tapi saya harus bangkit untuk membenahi dan memperbaiki diri saya, akhirnya kepercayaan diri saya mulai bangkit, bisa jadi semua yang telah saya lalui adalah karena ada kelemahan dan kekurangan dalam diri saya. Saya tidak boleh terlena dan terlalu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, saya mencoba untuk mawas diri, pengalaman bersama Hasina adalah noda dalam perjalanan hidup saya, hikmah dari semua kejadian yang telah saya lalui bersama Hasina adalah, bagaimana perjuangan saya menjaga diri, melakukan hal-hal diluar batas, apa yang dilarang oleh agama saya berusaha menghindarinya sejauh-jauhnya. Ujiannya sangat luar biasa yang telah saya lalui, tapi Alhamdulillah saya selamat, setelah saya renungi semuanya, saya harus lebih hati-hati lagi.
Setelah saya punya keberanian untuk mencintai seorang gadis, dengan bantuan kakak, dan atas ijin Allah saya di bukakan jalan untuk bisa berkenalan dengan, gadis idaman saya, yang menjadi istri saya saat ini, saya di perkenalkan dengan seorang gadis, putrinya seorang tokoh di Bandung, walau demikian sebenarnya gadis tersebut, saya suka sudah lama, dan saya pendam beberapa tahun lalu saat pertama kali saya datang ke Bandung, sebelum saya kenal dengan Hasina, tapi saat itu saya belum punya keberanian untuk mengungkapkannya. Rasa suka saya pendam bertahun-tahun. Perjuangan yang tidak mudah. Apalagi saya sempat ketemu dengan Hasina di rumah gadis idaman saya tersebut. Yang akhirnya saya gagal. Gadis yang menjadi idaman saya tersebut adalah yang menjadi Istri saya sekarang.
Alhamdulillah, pertemuan dengan istri saya menjadi sesuatu yang sangat indah dalam hidup saya, Allah menyempurnakan nikmatNya buat saya, dan inilah hidup saya. Allah benar-benar menolong saya. Kisahnya menjadi sangat indah buat saya sendiri. Tak terbayangkan oleh saya, bahwa orang yang pertama kali saya jumpa ketika pertama kali datang ke Bandung menjadi teman hidup saya selamanya. Kisah cinta saya menjadi sangat nyata di hadapan saya, saya telah ditinggal begitu saja oleh seorang gadis yang saya cintai, ketika saya mencoba mengukur perasaan saya, ternyata kenyataanya dalam diri kita ada cinta dan nafsu, keduanya sangat tipis perbedaannnya, begitu saya sadari, jodoh adalah ketentuan dari Allah, terbukalah seluruh hidup saya....karena Allah telah memberikan jodoh yang terbaik buat saya yaitu istri saya sekarang....!
Pertemuan kami Alhamdulillah, sesuai syariat karena pertama-tama saya langsung menyampaikan ke orang tuannya, setelah saya sampaikan, orang tua menyampaikan ke anaknya maksud dan tujuan saya, melihat keseriusan saya orang tua menanyakan ke anaknya. Alhamdulillah saya diterima. Karena perasaan telah saya pendam bertahun-tahun, walau gadis pilihan saya yang akan menjadi istri saya tak mengetahuinya, tapi saya merasa telah mengenal beberapa tahun yang lalu, sehingga saya tak memerlukan waktu lagi untuk lebih mengenalnya. Akhirnya melalui orang tua, saya memberanikan diri untuk melamarnya. Niat saya, kami akan menjalani masa-masa indah setelah kami menjadi suami istri. Kenangan dan cerita indahpun telah kami lalui. Sampai hari ini (Jum’at tanggal 17 Desember 2010) tak terasa kami telah melalui bersama selama 15 tahun.
Buat Istriku Tersayang....! SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN kita yang ke 15. Terima kasih Alahamdulillah hari ini telah 15 tahun, jadi pendampingku yang setia, udah jadi Istri yang baik dan sesuai dengan harapan serta mimpiku ...udah jadi IBU yang baik buat Luqman Rafif, Rifki Alaudin dan Muhamad Kahfi Al Bana .. Jangan pernah berhenti untuk selalu bersyukur dan bertakwa pada Alloh SWT,... mohon maaf kalau selama ini Suamimu belum bisa memberikan yang terbaik ... setiap hari saya akan perbaiki diri, Insya Alloh menjadi lebih baik,..dan lebih sabar ... ISTRIKU, terimakasih sudah menjadi pelipur lara dan penghilang rasa sedih saya selama ini. menjadi penyejuk hati dan mata selama ini.... terimakasih saat saat kita merasakan kebahagiaan bersama..... terimakasih sudah hadir setiap hari disamping saya,... juga jadi orang pertama yang saya lihat kalau bangun tidur ... semoga kesabaran 'MAMA' selama ini diganti dengan syurga oleh Alloh SWT, semoga anak kita menjadi anak yang sholeh.. Semoga keluarga kita menjadi Keluarga Sakinah, mawadah warahmah....... dan semoga kita semakin kuat dan kompak menghadapi hari esok ...Amien. Ya Allah jadikanlah Anak dan istriku menjadi penyejuk hati dan pandanganku...! dari YANG SELALU MENCINTAIMU DAN SELAMAMNYA............ Pak UDIN....(Sang Suami...)
Kenapa bagian dalam hidup saya seperti ini perlu saya ceritakan dalam ‘sketsa’ saya, karena saya melihat sangat penting untuk diketahui oleh anak-anak saya, ataupun siapa saja yang akan mengenal saya. Katakanlah saya memang punya obsesi tentang seorang wanita, dan saya pernah mengenal beberapa wanita, tapi Hasina adalah seorang wanita yang pernah hadir dalam hidup saya, dan tentunya punya kenangan tersendiri. Dan itu berarti, saya tak bisa menutup diri tentang masa lalu yang telah saya lalui bersama Hasina. Sekarang saya telah menjalani hidup saya dengan bahagia bersama keluarga saya, anak dan istri saya. Kalau hidup adalah sebuah pilihan, pilihan hidup bahagia dengan keluarga adalah pilihan terbaik saya. Dan apapun kenangan dan cerita masa lalu itu semua adalah cerita hidup. Dan yang paling membahagiakan saya adalah Tuhan telah menunutun saya dengan cara yang sangat luar biasa, yaitu mempertemukan saya dengan seorang perempuan yang sekarang menjadi istri saya. Semua orang punya cerita masa muda, dan cerita masa muda saya, saya jalani dengan sederhana dan apa adanya, dan kisah cinta saya dengan Hasina walau agak sedikit telat menurut umur, saya telah menemukan pelajaran yang sangat berharga, walaupun berakhir dengan sakit hati. Tapi dibalik semua itu saya menemukan hikamh hidup saya. Setidaknya bagaimana rasanya sakit hati. Sekali lagi saya ingin tegaskan bahwa saya hanyalah manusia biasa, yang mencoba ingin memperbaiki hidup agar bisa lebih baik.
Jumat, 17 Desember 2010
Buat Istriku Tersayang
Buat Istriku Tersayang....! SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN kita yang ke 15.
Terima kasih Alahamdulillah hari ini telah 15 tahun, jadi pendampingku yang setia, udah jadi Istri yang baik dan sesuai dengan harapan serta mimpiku ...udah jadi IBU yang baik buat Luqman Rafif, Rifki Alaudin dan Muhamad Kahfi Al Bana ..
Jangan pernah berhenti untuk selalu bersyukur dan bertakwa pada Alloh SWT,...
mohon maaf kalau selama ini Suamimu belum bisa memberikan yang terbaik ...
setiap hari saya akan perbaiki diri, Iinsya Alloh menjadi lebih baik,..dan lebih sabar ...
ISTRIKU, terimakasih sudah menjadi pelipur lara dan penghilang rasa sedih saya selama ini.
menjadi penyejuk hati dan mata selama ini....
terimakasih saat saat kita merasakan kebahagiaan bersama.....
terimakasih sudah hadir setiap hari disamping saya,...
juga jadi orang pertama yang saya lihat kalau bangun tidur ...
semoga kesabaran 'MAMA' selama ini diganti dengan syurga oleh Alloh SWT,
semoga anak kita menjadi anak yang sholeh..
Semoga keluarga kita menjadi Keluarga Sakinah, mawadah warahmah.......
dan semoga kita semakin kuat dan kompak menghadapi hari esok ...Amien.
Ya Allah jadikanlah Anak dan istriku menjadi penyejuk hati dan pandanganku...!
dari YANG SELALU MENCINTAIMU DAN SELAMAMNYA............
Pak UDIN....(Sang Suami...)
Terima kasih Alahamdulillah hari ini telah 15 tahun, jadi pendampingku yang setia, udah jadi Istri yang baik dan sesuai dengan harapan serta mimpiku ...udah jadi IBU yang baik buat Luqman Rafif, Rifki Alaudin dan Muhamad Kahfi Al Bana ..
Jangan pernah berhenti untuk selalu bersyukur dan bertakwa pada Alloh SWT,...
mohon maaf kalau selama ini Suamimu belum bisa memberikan yang terbaik ...
setiap hari saya akan perbaiki diri, Iinsya Alloh menjadi lebih baik,..dan lebih sabar ...
ISTRIKU, terimakasih sudah menjadi pelipur lara dan penghilang rasa sedih saya selama ini.
menjadi penyejuk hati dan mata selama ini....
terimakasih saat saat kita merasakan kebahagiaan bersama.....
terimakasih sudah hadir setiap hari disamping saya,...
juga jadi orang pertama yang saya lihat kalau bangun tidur ...
semoga kesabaran 'MAMA' selama ini diganti dengan syurga oleh Alloh SWT,
semoga anak kita menjadi anak yang sholeh..
Semoga keluarga kita menjadi Keluarga Sakinah, mawadah warahmah.......
dan semoga kita semakin kuat dan kompak menghadapi hari esok ...Amien.
Ya Allah jadikanlah Anak dan istriku menjadi penyejuk hati dan pandanganku...!
dari YANG SELALU MENCINTAIMU DAN SELAMAMNYA............
Pak UDIN....(Sang Suami...)
Minggu, 05 Desember 2010
SKETSAKU (LANJUTAN 4)
Awalnya saya berpikir, saya menulis ‘sketsaku’ agar bisa bercermin dan membaca diri sendiri. Seperti membuat sketsa gambar, saya hanya mengurai hidup dengan membentuk garis-garis cerita hidup bahwa saya hanya ingin mengatakan beginilah cerita hidup saya, sederhana dan biasa-biasa saja, walau masih banyak detail hidup yang tak sanggup di urai dengan kata-kata, tapi saya berharap bisa memberikan gambaran seperti kita melihat sebuah gambar sketsa, semoga anak keturunanku bisa memberi warna yang lebih sempurna dan melengkapinya, walaupun saya menyadari sepenuhnya bahwa mereka akan mempunyai cerita hdup sendiri. Cerita hidup saya adalah cerita hidup manusia biasa, yang mencoba merubah ‘hidup’ menjadi lebih baik, tapi ketika saya harus mengatakan bagaimana saya harus memperjuangkan untuk keluarga saya, saya ingin mengatakan kepada anak-anak bahwa saya ingin menjadi seorang bapak yang luar biasa. Mengantar sekolah, mendidik yang terbaik buat mereka, do’a terbaik dan memberikan apapun yang terbaik buat anak-anakku, bisa mengenal Allah dan istiqomah dalam beribadah khususnya sholat lima waktu dan belajar Al Qur’an, tak ada yang lebih membahagiakan bisa mendidik anak kita menjadi anak yang saleh, selanjutnya apapun cita-cita mereka biarlah mereka sendiri yang menentukan arah dan tujuan hidupnya.
Namun demikian sayapun sangat menyadari bahwa dalam perjalanan hidup, sesungguhnya perjalanan hidup orang tua kita sebenarnya mereka lebih berat ‘derita’ dan prihatin hidupnya. Tentunya dalam situasi dan kondisi yang beda. Lebaran kemarin September 2010 seperti biasa saya berkumpul di tempat bapak mertua di Bandung. Saya sangat bersyukur karena mempunyai bapak ibu mertua dan adik-adik ipar yang luar biasa sangat baiknya, suasana rumah penuh kekeluargaan, dan kami selalu kangen untuk bisa berkumpul lagi, terutama istri saya kalau udah kumpul sangat berat rasanya untuk kembali lagi ke Limo-Depok (Jakarta di pinggirnya). Tapi kalau sudah kumpul seperti itu sudah menjadi kebiasaan bapak mertua, mengajak kami anak-anakanya untuk, melakukan tapak tilas kisah perjalanan hidupnya. Dan sudah menjadi kebiasaan rutin kami untuk mengunjungi saudara angkat bapak di daerah Cikadut (Arjasari) dan dilanjutkan ke Cimahi tempat Uwa Hasan (orang yang dituakan oleh bapak). Bapak pernah tinggal di Asrama NTT daerah Cikadut, pernah kenal dengan orang asli di belakang asrama tersebut, dan tuan tanah di daerah tersebut, karena hubungannya sangat baik dengan keluarga tersebut, bapak di anggapnya sebagai anak sendiri, sehingga sampai sekarang kami sebagai anak-anaknya, setiap lebaran selalu silaturahim kesana. Kisah perjalanan bapak memang sangat luar biasa. Walaupun saya belum bisa menceritakannya dengan sangat detail, tapi saya akan mencoba menguarainya dalam sketsa saya kali ini, semampu yang bisa saya cerita, dari hasil setiap kali, bila kami berkumpul, karena masa-masa itu selalu bapak berusaha bercerita dengan semangat, tentang kisah hidupnya. (semoga dalam kesempatan lain saya bisa mengangkat cerita bapak mertua lebih luas lagi).
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Bima bapak melanjutkan pendidikan di Kupang. Dari Kupang bapak melanjutkan pendidikan ke Bandung kurang lebih tahun 1962 masuk IKIP Bandung Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa Indonesia, awalnya hidup cukup prihatin sempat tinggal beberapa bulan di Asrama Flores (NTT) di daerah Cikadut, kuliah jalan kaki dari Cikadut ke Ledeng IKIP Bandung, pernah sakit cukup parah, karena kecapean. Selama sakit tersebut ada seorang teman datang menjengguk dan mau membantu yang kebetulan tinggal dekat kampus. Setelah sembuh dari sakit bapak diajak tinggal dekat kampus. Yang akhirnya bisa tinggal di asrama kampus IKIP Bandung. Semangat belajar bapak memang sungguh sangat luar biasa. Dan prestasinyapun cukup bagus. Ada seorang dosen yang cukup menarik perhatiannya, padahal dosen tersebut cukup menakutkan bagi teman mahasiswa yang lain. Tapi dengan bapak justru mau di angkat jadi asistennya. Bapak tidak langsung mau terima, dan bertanya balik ke dosen tersebut, bapak dosen mungkin salah pilih buat saya, tapi dosen tersebut dengan sedikit memaksa dan menyakinkan, saya yakin ! saya tidak salah pilih dengan kamu, katanya. Akhirnya bapak memberikan pilihan dan menawarkan, kalau begitu..! ok..! bapak dosen jangan terlalu yakin dulu, tapi saya harus diuji terlebih dulu oleh bapak..! Akhirnya apa yang ditawarkan, diterima oleh dosen tersebut. Dengan tawaran itu mulailah tonggak baru dalam hidup bapak, dengan dosen tersebut mulailah bapak melakukan dialog dan diskusi yang sangat membantu dalam proses belajarnya sebagai mahasiswa. Yang kebetulannya lagi bapak sangat cukup berminat dalam hal politik, organisasi, kesenian dan agama. Bapak dosen tersebut akhirnya sangat senang dengan bapak. Jadilah bapak sebagai asistennya. Semangat dan kemapuan belajar bapak terus meningkat. Dan dengan usahanya yang gigih bapak bisa menyelesaikan program diplomanya, selanjutnya ke Program Sarjana (S1).
Tahun 1964 pulang ke Bima dan nikah, tahun 1967 pulang lagi tapi ke Bandung sendiri. Mamah belakangan menyusul bapak ke Bandung setelah umur kandungan anak pertama (istri saya) kurang lebih enam tujuh bulan, berdua bersama orang tuanya bapak.
Dalam proses perjalanan selanjutnya dengan pangalaman sebagai asisten dosen, membuka kemungkinan bapak untuk terus meningkatkan program dalam proses belajar di IKIP Bandung. Menyelesaikan S1 dan menjadi dosen di almamatenya, selanjutnya berusaha melanjutkan program pendidikan ke S2 ke Singapura tahun 1984, dan melanjutkan S3 di Universitas Pajajaran tahun 1994. Dalam setiap melanjutkan jenjang pendidikan bapak selalu mengalami kesulitan untuk diterima di program tersebut, tapi kalau sudah diterima dengan kemampuan yang ada bapak bisa menyelesaikannya dengan cepat dan hasil yang sangat memuaskan. Dan Alhamdulilah sampai akhirnya Bapak bisa meraih gelar Profesor. Dengan segala kesederhanaan dan hidupnya yang penuh sahaja. Insya Allah menjadi inspirasi bagi semua orang yang bisa mengenalnya dengan baik.
Namun demikian sayapun sangat menyadari bahwa dalam perjalanan hidup, sesungguhnya perjalanan hidup orang tua kita sebenarnya mereka lebih berat ‘derita’ dan prihatin hidupnya. Tentunya dalam situasi dan kondisi yang beda. Lebaran kemarin September 2010 seperti biasa saya berkumpul di tempat bapak mertua di Bandung. Saya sangat bersyukur karena mempunyai bapak ibu mertua dan adik-adik ipar yang luar biasa sangat baiknya, suasana rumah penuh kekeluargaan, dan kami selalu kangen untuk bisa berkumpul lagi, terutama istri saya kalau udah kumpul sangat berat rasanya untuk kembali lagi ke Limo-Depok (Jakarta di pinggirnya). Tapi kalau sudah kumpul seperti itu sudah menjadi kebiasaan bapak mertua, mengajak kami anak-anakanya untuk, melakukan tapak tilas kisah perjalanan hidupnya. Dan sudah menjadi kebiasaan rutin kami untuk mengunjungi saudara angkat bapak di daerah Cikadut (Arjasari) dan dilanjutkan ke Cimahi tempat Uwa Hasan (orang yang dituakan oleh bapak). Bapak pernah tinggal di Asrama NTT daerah Cikadut, pernah kenal dengan orang asli di belakang asrama tersebut, dan tuan tanah di daerah tersebut, karena hubungannya sangat baik dengan keluarga tersebut, bapak di anggapnya sebagai anak sendiri, sehingga sampai sekarang kami sebagai anak-anaknya, setiap lebaran selalu silaturahim kesana. Kisah perjalanan bapak memang sangat luar biasa. Walaupun saya belum bisa menceritakannya dengan sangat detail, tapi saya akan mencoba menguarainya dalam sketsa saya kali ini, semampu yang bisa saya cerita, dari hasil setiap kali, bila kami berkumpul, karena masa-masa itu selalu bapak berusaha bercerita dengan semangat, tentang kisah hidupnya. (semoga dalam kesempatan lain saya bisa mengangkat cerita bapak mertua lebih luas lagi).
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Bima bapak melanjutkan pendidikan di Kupang. Dari Kupang bapak melanjutkan pendidikan ke Bandung kurang lebih tahun 1962 masuk IKIP Bandung Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa Indonesia, awalnya hidup cukup prihatin sempat tinggal beberapa bulan di Asrama Flores (NTT) di daerah Cikadut, kuliah jalan kaki dari Cikadut ke Ledeng IKIP Bandung, pernah sakit cukup parah, karena kecapean. Selama sakit tersebut ada seorang teman datang menjengguk dan mau membantu yang kebetulan tinggal dekat kampus. Setelah sembuh dari sakit bapak diajak tinggal dekat kampus. Yang akhirnya bisa tinggal di asrama kampus IKIP Bandung. Semangat belajar bapak memang sungguh sangat luar biasa. Dan prestasinyapun cukup bagus. Ada seorang dosen yang cukup menarik perhatiannya, padahal dosen tersebut cukup menakutkan bagi teman mahasiswa yang lain. Tapi dengan bapak justru mau di angkat jadi asistennya. Bapak tidak langsung mau terima, dan bertanya balik ke dosen tersebut, bapak dosen mungkin salah pilih buat saya, tapi dosen tersebut dengan sedikit memaksa dan menyakinkan, saya yakin ! saya tidak salah pilih dengan kamu, katanya. Akhirnya bapak memberikan pilihan dan menawarkan, kalau begitu..! ok..! bapak dosen jangan terlalu yakin dulu, tapi saya harus diuji terlebih dulu oleh bapak..! Akhirnya apa yang ditawarkan, diterima oleh dosen tersebut. Dengan tawaran itu mulailah tonggak baru dalam hidup bapak, dengan dosen tersebut mulailah bapak melakukan dialog dan diskusi yang sangat membantu dalam proses belajarnya sebagai mahasiswa. Yang kebetulannya lagi bapak sangat cukup berminat dalam hal politik, organisasi, kesenian dan agama. Bapak dosen tersebut akhirnya sangat senang dengan bapak. Jadilah bapak sebagai asistennya. Semangat dan kemapuan belajar bapak terus meningkat. Dan dengan usahanya yang gigih bapak bisa menyelesaikan program diplomanya, selanjutnya ke Program Sarjana (S1).
Tahun 1964 pulang ke Bima dan nikah, tahun 1967 pulang lagi tapi ke Bandung sendiri. Mamah belakangan menyusul bapak ke Bandung setelah umur kandungan anak pertama (istri saya) kurang lebih enam tujuh bulan, berdua bersama orang tuanya bapak.
Dalam proses perjalanan selanjutnya dengan pangalaman sebagai asisten dosen, membuka kemungkinan bapak untuk terus meningkatkan program dalam proses belajar di IKIP Bandung. Menyelesaikan S1 dan menjadi dosen di almamatenya, selanjutnya berusaha melanjutkan program pendidikan ke S2 ke Singapura tahun 1984, dan melanjutkan S3 di Universitas Pajajaran tahun 1994. Dalam setiap melanjutkan jenjang pendidikan bapak selalu mengalami kesulitan untuk diterima di program tersebut, tapi kalau sudah diterima dengan kemampuan yang ada bapak bisa menyelesaikannya dengan cepat dan hasil yang sangat memuaskan. Dan Alhamdulilah sampai akhirnya Bapak bisa meraih gelar Profesor. Dengan segala kesederhanaan dan hidupnya yang penuh sahaja. Insya Allah menjadi inspirasi bagi semua orang yang bisa mengenalnya dengan baik.
Selasa, 23 November 2010
SOICHIRO HONDA : “Lihat Kegagalan Saya”
Kisah-Kisah Inspiratif
(Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita.)
SOICHIRO HONDA : “Lihat Kegagalan Saya”
Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam.
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.
Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.
5 Resep keberhasilan Honda:
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.
(Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita.)
SOICHIRO HONDA : “Lihat Kegagalan Saya”
Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam.
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.
Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.
5 Resep keberhasilan Honda:
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.
Pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara
Kisah-Kisah Inspiratif
(Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita)
Pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara
Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabaya perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara penuh sesak seperti biasa.
Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.
Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. “Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang di luar kereta. “Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.
“Tidak. Mau ? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.
Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.
Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.
Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.
Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.
oleh : Gani
(Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita)
Pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara
Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabaya perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara penuh sesak seperti biasa.
Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.
Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. “Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang di luar kereta. “Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.
“Tidak. Mau ? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.
Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.
Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.
Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.
Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.
oleh : Gani
Senin, 22 November 2010
Rezeki Allah SWT
Nabi SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.
" Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"
Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.
" Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rejeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"
Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
" Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. USai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.
Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.
" Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. " Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. " Si katak sendiri. MAlaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, " Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut ". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.
" Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?"
(Dikutip dari Mutiara Hikmah 1001 kisah:1)
" Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"
Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.
" Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rejeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"
Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
" Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. USai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.
Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.
" Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. " Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. " Si katak sendiri. MAlaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, " Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut ". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.
" Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?"
(Dikutip dari Mutiara Hikmah 1001 kisah:1)
Langganan:
Postingan (Atom)